Unroot Nexus S 4G

Nyobain unroot di Nexus S 4G nya @monsterkrupuk

1. Download file unroot nya di http://downloadandroidrom.com/file/NexusS/unroot/nexuss4gunroot/nexuss4gunroot.zip
2. Matikan hp, colokin ke USB laptop/pc, lalu masuk fastboot mode dengan cara tekan dan tahan tombol volume up + tombol power secara bersamaan
3. Ekstrak file nexuss4gunroot.zip
4. Bagi pengguna OS Windows, install dulu drivernya yang berada di folder usb_driver
5. Karena saya menggunakan linux, kemudian buka terminal, dan masuk ke directory nexuss4gunroot
6. Jika belum terinstall fastboot, dapat install dengan mengetikkan

apt-get install android-tools-fastboot

7. Ketikkan perintah berikut ini secara berurutan

fastboot flash boot boot.img

fastboot flash system system.img

fastboot flash recovery recovery.img

fastboot flash userdata userdata.img

fastboot erase cache

fastboot oem lock

8. Kemudian restart hp

Hapus DNS Entry

Kalau pernah ngalamin dapet error message

Account Creation Status: failed
Sorry, a DNS entry for domainname.com already exists, please delete it first (from all servers in the dns cluster)

atau

Domain already exists

dan ga bisa di hapus lewat WHM, mungkin solusinya adalah hapus manual melalui ssh dengan akses root

#/scripts/killdns domain.com

Seorang Pasien

Entah kenapa tiba tiba aku di daulat menjadi salah satu juri di sebuah festival musik cadas. Ya, meskipun aku sempat beberapa tahun yang lalu pernah mencoba menjadi musisi dan cukup mencintai musik cadas, tapi bukan berarti aku paham apapun tentang musik ini

Dan pada akhirnya, di waktu yang sebenarnya tidak kutunggu ini, aku datang di sebuah tempat yang nantinya menjadi semacam tempat test ku untuk menjadi juri. Beberapa meter di depanku, tampak seakan bangunan ini mirip piramida dengan tangga di tengahnya dan berkerumun banyak orang.

Test ini seperti leveling di permainan. Kamu harus menyelesaikan permainan pertama dengan task ini itu untuk dapat melanjutkan naik ke tangga level selanjutnya. Tapi bagiku, ini tampak seperti neraka, dimana kamu harus melalui tahap tahap yang sangat menyulitkan hingga pada akhirnya dapat menemui pintu surga. Jika gagal dalam tahap tertentu, kamu akan jatuh di lempar ke neraka di bawahnya.

Ya, benar benar menyeramkan dengan bentuk bangunan yang identik warna gelap. Oh tidak, bangunan ini memang seluruhnya berwarna hitam. Belum lagi orang orang di setiap tangganya berdandan ala pemain musik cadas, rambut gondrong pakaian serba hitam dan tampak garang.

Hal yang membuatku masih nekat dan nyaman untuk memulai menjalani test ini karena wanita di sebelahku. Wanita cantik yang belum lama ku kenal yang ku dekati karna akhirnya aku tau dia seorang dokter. Dia ku kenal melalui seorang teman yang pada saat itu, temanku ini bertemu dengannya di sebuah konser musik cadas di kota seberang. Kota asal wanita ini.

Bukan karna lalu merasa jaim dan berusaha berani menghadapi test ini, tapi karna yakin wanita ini bisa membantu melewati tahap tahap yang akan di lalui pada test ini. Tangga demi tangga ku lalui, dan beberapa jawaban ngawur yang ternyata selalu benar dapat dilewati. Orang orang didepanku ini ternyata adalah kumpulan musisi cadas era 70-80an, dan mungkin sangat underground karna hanya sedikit yang kutau namanya. Dan bayangkan, melalui tour singkat ini aku mau ataupun tidak diharuskan menghapal dan mengenal orang orang ini.

Mereka tidak seseram seperti di pikiranku, justru beberapa hal yang ditanyakan, mereka malah memberi contoh kepadaku. Mengajari beberapa hal yang aku tidak tau sebelumnya. Akhirnya selesailah tahapan test ini hingga puncak bangunan telah kulewati.

Beberapa hari setelahnya, malam setelah festival musik cadas ini selesai, kami, aku dan orang orang ini dan tentu juga wanita yang menemaniku dari awal, mengadakan semacam party kecil untuk merayakan suksesnya acara. Beberapa foto foto yang di ambil dan telah diberi caption, kami liat bersama sama. Banyak foto ku dengan dia yang bercaption “with Bernad” dan beberapa tampak terlihat bergandengan mesra.

Wanita ini, sebut saja Jessica. Seorang wanita cantik yang terpaut umur beberapa tahun di atasku. Dan hubungan kami pun semakin dekat dari hari ke hari semenjak perkenalan kami. Dan pada akhirnya, karna acara musik ini, teman teman ku pun akhirnya mengenal wanita ini. Beruntunglah hatinya sudah ku pegang, rasa takut karna bakal kena tikungpun hilang.
Beberapa kali aku membayangkan, orang tuaku datang menemui keluarganya untuk melamarnya. Konyol memang, tapi itulah yang tiba tiba muncul di pikiranku. Beberapa pertanyaan muncul di dalam hati. Bagaimana tidak, Jessica ini bahkan lebih tua dari kakak ku sendiri.

Hingga pada suatu waktu, aku menulis di bio akun Twitterku. “Pasiennya @Jessica”

Ruangan Itu

Beberapa kali mondar mandir di depan ruang ini, entah beberapa kali aku mencari ruang yang sama yang seingatku adalah ruang di depanku ini. Ruangan itu berada di ujung lorong ini, lebih tepatnya ruang ke dua dari ujung. Ruangan ini sudah beberapa tahun ku tinggalkan dan kini berganti menjadi ruang perpustakaan umum.

Ya, aku kembali lagi ke gedung kampus yang entah kenapa lebih mirip bangunan SD setelah beberapa tahun aku menghilang dari sini. Ruang ini hanya mengingatkanku pada kejadian mesum yang ku lakukan bersama pacar temanku beberapa tahun lalu. Dulu ruang ini adalah ruang ganti pakaian.

Entah hari itu apa maksud kedatanganku juga akupun masih berpikir untuk itu. Hanya membiarkan kakiku melangkah dan berhenti tepat di ruangan ini. Di gedung ini. Di tempat dulu aku bercengkrama bersama teman teman yang kini entah pergi kemana.

Ku buka ruang perpustakaan itu. Ruangan ini kini menjadi sangat luas, mungkin karna saat menjadi ruang ganti, masih ada sekat sekat yang membagi ruang menjadi ruangan yang lebih kecil. Lebih banyak lalu lalang mahasiswa yang tampak intelek dan jenius menenteng buku. Ku ingat ingat, perpustakaan ini justru mirip dengan perpustakaan pada film Harry Potter.

Kemudian mataku tertuju di kursi ujung belakang bagian tengan perpustakaan. Yang mana sebenarnya ini adalah sisi memanjang ruang ke samping, yah layaknya ruangan kelas seperti biasanya, memanjang ke samping.
Tampak tidak asing beberapa rombongan yang duduk disana, aku mengenal satu, dua, beberapa dari mereka. Bukan, semua dari mereka yang berada duduk mengelilingi meja itu.

Beberapa nama dapat ku ingat, Amri, sahabat karibku dulu yang hingga kini masih cukup sering berkomunikasi via socmed. Ku hampiri mereka dan seperti biasa kusalami satu persatu. Lama lama akupun terjerumus obrolan ngalor ngidul yang aku sendiri pun tidak bisa mengingat kembali obrolan itu.

Posisi dudukku berhadapan dengan Amri, hanya saja sedikit berada di sebelah kanan posisinya. Lebih tepatnya aku duduk di pojok meja dan menghadap ke arah belakang perpustakaan. Sehingga jika ada orang datang, belum tentu bisa mengenaliku dari punggungku.

Beberapa saat kemudian ada seorang, tidak, dua orang datang dan mengambil kursi baru untuk di letakkan di belakangku karna sisi meja ini sudah penuh dengan kursi. Dia ternyata Bogie, teman masa awal kuliahku dulu. Aku juga berpikir bagaimana dia bisa disini, sedangkan kami dulu berbeda universitas. Dan seperti biasa, menanyakan kabarku lalu kabar kuliahku “Kowe nang endi saiki? Wes lulus rung? Jarene arep pindah? Uwis po?”

Itu sebenarnya pertanyaan yang sering aku hindari di kalangan teman teman kampusku, dan ini muncul dari teman mainku saat awal kuliah. Akupun hanya bisa tersenyum, dan bernafas lega karna dia menanyakan dengan setengah berbisik. Itu berarti disekitar kami tidak ada yang mendengar tentang pertanyaan tentang kepindahan kuliahku.

Aku hanya mengiyakan pertanyaannya dan mengatakan bahwa aku sedang akan mengurus kepindahannya.

Tiba tiba dari ujung meja pada deret yang sama denganku, terlihat sosok orang yang ku kenal baik di awal kuliah hingga akhir saat ku menghilang dari kampus ini. Orang itu berpakaian rapi dengan kemeja putih dan tampak seperti mahasiswa yang sedang menghadapi seminar, pendadaran atau apalah kegiatan resmi lainnya.

“Hei cong, kemana aja kau” dengan sapaan khas dan logat sumatera nya, aku mengenali sosok itu sebagai Rusdan. Ya dia memang teman sejak awal masuk kuliah dan sempat kami menempati satu gedung kost yang sama. Dan setelah dia pindah kost lagi ke tempat lain, kami memang hilang komunikasi ditambah aku yang sudah tidak pernah menjamah kampus.

Basa basi sambil cengengesan aku jawab sapaan nya, sambil berusaha untuk bersikap tegar dan tabah ketika pertanyaan tentang kuliahku. Aku sendiri juga heran apa yang sedang dilakukan di sini, di kampus ini. Ku tau terakhir kali dengar kabarnya saat itu, beberapa tahun lalu, dia sedang menyelesaikan skripsinya.

Tiba tiba dia berkata sambil sedikit berteriak, entah karena suara keras khas sumatera atau memang posisi kamu yang berada di ujung berseberangan meja ini. “Katanya kau mau ngurus surat kepindahanmu, sudah belum?”
Aku jadi teringat apa tujuanku kesini. Ya aku akan mengurus kepindahanku dari kampus ini.

Sejenak aku pamit dengan mereka dan berjalan ke arah luar. Ku buka lagi tas ku di dekat pintu keluar, ku cari surat keterangan pindah yang dulu pernah ku minta dan hanya tersimpan bertahun tahun di dalam tas. Ku baca persyaratannya dan meyakinkan bahwa semua persyaratannya telah terpenuhi.

Beberapa saat sebelum keluar dari ruangan ini, ku tengok ke belakang, ke sudut ruangan ini dimana ingatan membawaku ke kejadian mesum beberapa tahun lalu bersama pacar temanku. Ya, kami melakukannya di ruang ganti ini, di tempat tidur yang terletak di pojokan ruang ini.
Aku tersenyum dan kemudian melangkah keluar.

Menjelang Siang

Di rooftop sebuah cafe di suatu sore, ketika sedang asik bercengkrama sana sini, terlihat dari kejauhan sesosok gadis yang cukup ku kenal. Ya, dia dulu seorang gadis tercantik di satu angkatan di suatu jurusan di Universitas swasta di Jogja. Sebut saja Devi.

Iseng ku hampiri, dan ternyata dia tidak sendiri, bersama adik perempuan dan beberapa teman wanitanya. Ngobrol ngalor ngidul, basa basi sana sini. Maklum, dulu hanya sebatas saling mengenal dan belum pernah terlibat dalam obrolan sepanjang ini. Saat itu aku sudah melupakan apa yang sedang ku kerjakan di Macbook ku dan membiarkannya terbuka begitu saja.

Malam itu Devi sedang merencanakan acara pesta ulang tahun untuk adiknya. Langsung saja aku berpura pura paham tentang membuat sebuah acara dan berusaha untuk turut serta membantu. Yah, paling engga aku paham tentang menyusun konsep dan ide kreatif.

Singkat cerita, pada hari H, aku mengunjungi rumahnya dan tentu saja mengajak beberapa teman. Acara selesai, obrolan masih berlanjut hingga larut malam.

Beberapa hari setelah itu aku masih sering mengunjungi rumahnya dan ternyata memang rumah itu sering di pakai ngumpulnya sahabat sahabatnya, yang ku kenal maupun tidak. Kebetulan Devi mempunyai seorang ponakan yang masih balita, dan dengan cekatan aku langsung berusaha seolah tampak sebagai pria yang ramah dengan anak anak.

Benar saja, Devi mengajakku berputar putar komplek menggunakan sepeda motorku bersama keponakan kecilnya. Sore itu cuaca sedikit mendung dan sesekali gerimis datang. Sungai kecil di ujung komplek terlihat deras arusnya. Akupun memutuskan untuk kembali ke rumah, mengingat kami membawa balita.

Sampai di rumah, aku bertemu dengan ibunda nya, dan langsung dia mengatakan bahwa akan terjadi banjir karena kiriman air bah dari daerah utara yang menerjang perkebunan tebu. Awalnya aku anggap hal biasa. Ah seumur umur di kota ini juga belum pernah banjir hingga airnya baik ke rumah. Sambil berjalan melewati lorong rumah. ku lihat melalui jendela disamping pintu belakang, halaman sudah tergenang air hingga mencapai lantai rumah yang cukup tinggi itu.

Terkejut dengan kondisi itu, seketika aku teriak memanggil Ibunda Devi. Beliau lalu berkata bahwa air banjir yang menggenang ini rasanya manis karena telah bercampur dengan tebu dari perkebunan tebu yang hancur akibat air bah.

Entah bagaimana setelah itu, di sore yang sama. Devi berkata padaku sembari ngobrol santai di balkon lantai 2.
“Sebenarnya, harapan apa yang kamu kasih ke aku?”
Ya, hingga awal pertemuan kami di rooftop cafe tempo hari, kami menjadi dekat dan semakin dekat. Dulu, aku hanya memandang kagum padanya karna sosok yang cantik itu. Dan tak kusangka kini dia hadir di dekatku dan benar benar dekat dan meminta hatiku.

Aku hanya tersenyum sambil mengusap rambutnya.

Dan entah bagaimana, malam ini juga aku harus berada di bandara untuk penerbangan ke Maluku. Kali ini bukan untuk traveling seperti biasanya, dan baru kali melakukan perjalanan ke timur Indonesia. Aku tak sendiri, 3 orang temanku turut serta.
Perjalanan ini untuk mencari pemasukan tetap, dan entah kenapa memilih maluku dan terobsesi dengannya. Terobsesi karena bisa berada di Indonesia timur dengan gaji tetap yang cukup besar.

2 dari 3 temanku yang ikut serta, masih bekerja bersama ku nanti di sebuah tempat baru, dan 1 orang lainnya hanya sekedar ikut meramaikan. Tujuan mencari kerja ini ku lakukan karna usaha ku saat ini belum bisa di jamin pemasukan perbulannya, tapi bukan berarti aku meninggalkan sepenuhnya usaha yang sudah kurintis lama ini. Hanya saja dana ku kerjakan dan ku pantau secara jauh.

Malam keberangkatan itu cuaca hujan deras berangin kencang. Devi mengantarku hingga bandara. Dia memelukkan dan berkata untuk sering pulang ke kota ini. Aku mengiyakan dan membalas mengatakan “jaga orang tuamu, dan tolong jaga orang tuaku”
Aku menitipkan orang tuaku padanya karna saat itu aku belum pamit sama sekali pada orang tuaku. Mungkin orang tuaku masih menganggap diriku masih menginap di kost dan jarang pulang.

Aku hanya berpikir, aku akan pulang 2 bulan lagi untuk menemui keluarga ku dan Devi, mengabarkan kondisiku.
Entah kenapa pesawat yang aku tumpangi adalah pesawat berbaling baling dan kondisi di dalamnya tampak seperti angkutan umum darat. Hanya saja lebih lebar dengan 3 jalur seat penumpang dan kondisi di dalam gelap, hanya cahaya dari luar jendela yang menyinari.

Rombonganku mungkin paling berisik di dalam. Bayangkan betapa girangnya kami yang akan pergi merantau mencari pekerjaan sambil menikmati indahnya Indonesia timur. Walaupun begitu, karna kondisi cuaca yang menurutku buruk, aku sendiri terdiam memikirkan keselataman pesawat ini.

Singkat cerita, aku sudah berada di Maluku untuk 2 bulan dan saatnya aku pulang sejenak ke kotaku, Jogja. Ya tentu saja untuk menemui orang tua ku serta Devi.

Ku awali mengunjungi rumah Devi. Begitu bertemu Devi, ada mimik aneh di wajahnya yang entah kenapa tidak begitu bahagia melihatku di depannya. Dia mengatakan bahwa dia tidak bisa berjauhan denganku. Dan entah apapun alasannya hingga akhirnya dia dan kemudian aku, menganggap hubungan ini sudah tidak spesial lagi.

Masih dengan semangat, aku melanjutkan pulang ke rumahku sendiri. Ku temukan rumahku dalam kondisi sepi. Dimana adikku? Bapak dan Ibuku?

Ku temukan Ibuku tertidur di kamarnya, dan begitu juga adikku tertidur di sebelahnya. Ketika ku bangunkan dan tanyakan Bapak dimana, kaget aku di buatnya. Lemas badanku mendengarnya. Ya, Bapak dan Ibuku telah bercerai sekitar sebulan lalu. Adikku ikut tinggal bersama Ibuku.

Rasanya ingin menangis sekerasnya. Menangis karna penyesalan tidak berada di sana saat 2 bulan lalu dan lebih memilih pergi ke pulau seberang. Akhir kalimat sebelum meninggalkan kamar itu, aku berkata “ikutlah denganku. kita pindah ke Maluku”

Hello world!

Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!