Month: March 2016

Mengejar Gerhana Matahari Total Di Ampera #WonderfulEclipse

Gerhana Matahari Total #Palembang #travel #iPhone6s #iphonesia #GMT2016

A post shared by Hasta Bernad Satriani (@bernadsatriani) on

 

Harusnya keren kalau judulnya cukup “Mengejar Matahari” saja biar kayak lagunya Ari Lasso. Berlanjut dari postingan sebelumnya, kali ini saya ngetrip ngajak @rasarab lagi. Karna menurut jadwal, gerhana akan di mulai pada pukul 6.20 WIB di tanggal 9 Maret, dan gerhana matahari totalnya (GMT) dimulai pukul 7.20 WIB, saya-pun pasang alarm di 5.00. Walaupun saya sudah yakin engga akan dapat spot yang pas disana, makanya saya engga berangkat di jam 4 pagi seperti kebanyakan orang. Di tambah, saya engga bawa perlengkapan tempur kamera dan sejenisnya.

Lautan Manusia Sepanjang Jembatan Ampera

Betul juga! Saya lihat bejubel manusia dengan kecepatan 0,001 KM/jam menaiki tangga menuju Jembatan Ampera. Belum lagi jika sampai di atas masih harus berdesakan.

 

Saya putuskan untuk berjalan menuju dermaga point mencari spot yang lebih baik. Dan ternyata sama saja 😐

Beberapa saat saya berada disana dan bepikir, GMT pun masih cukup lama, mending ke KFC dulu dan sarapan disana. Syukur kalau bisa dapet tempat duduk di tepi luar, kan bisa langsung liat ke arah Jembatan Ampera. Ditambah, saat itu langit mendung, terutama di sisi timur dan prediksi saya bakal zonk kalau mau lihat GMT

Berawal Dari Perangko

Saya tahu GMT sebenarnya sudah sejak kecil. Berawal hobi koleksi perangko sejak SD, saya mempunyai koleksi perangko edisi gerhana matahari total terbitan tahun 1983. Saat itu saya penasaran dan saya tanyakan ke Bapak seperti apa rasanya kalau terjadi GMT. Kata beliau, langit gelap hampir seperti malam. Rasa penasaran ini yang tersimpan bertahun tahun lamanya 😀

Bukan karna pengen lihat bentuk matahari yang seperti cincin, tapi lebih penasaran gimana sih di pagi/siang hari bisa tiba tiba gelap seperti malam. Momen ini yang sangat susah di cari, terbukti harus menunggu puluhan tahun kemudian sampai Indonesia terlewati GMT lagi.

Zonk ?

Bisa di bilang iya, bisa engga. Tapi memang sialnya, hanya kota Palembang yang mataharinya tertutup awan mendung :))

Konon ada yang jauh jauh dari Jepang dan kecewa karna kondisi pagi itu cuaca mendung. Tapi beruntungnya, karena lokasinya di Jembatan Ampera, jadi selain mencari GMT, para pengunjung bisa menikmati landscape nya Ampera dan sungai Musi-nya

Suasana Ampera sebelum Gerhana Matahari Total

Bagi yang berniat buat nonton Gerhana Matahari Total selanjutnya (selamat menunggu puluhan tahun lagi) di Palembang, lebih baik booking hotel / penginapan yang dekat dengan Ampera. Paling engga bisa di capai dengan berjalan kaki. Kalau kamu berniat untuk memmotret gerhana, datanglah jam 4 pagi, kemudian cari spot di KFC Ampera. Kenapa KFC? Kamu bisa duduk sambil makan sembari menunggu munculnya GMT.

24 Jam Di Palembang

Ini ke lima kalinya saya menginjakkan kaki di pulau Sumatera, dan pertama kalinya di kota Palembang. Dan hanya Pempek serta Jembatan Ampera yang saya tau dari kota ini. Saya juga baru tau ada destinasi lain seperti Benteng Kuto Besak, dan Pulau Kemaro itu ketika merencanakan untuk pergi ke Palembang dalam rangka nonton Gerhana Matahari Total (GMT) 😀

Bisa di bilang trip kali ini sungguh selo, karna saya mendadak dan hanya dalam waktu kurang lebih 24 jam. Saya memutuskan memanfaatkan waktu 24 jam ini untuk mengunjungi Jembatan Ampera dan kulineran.

Ampera dari sungai Musi #Palembang #iphonesia #travel #iPhone6s

A post shared by Hasta Bernad Satriani (@bernadsatriani) on

 

Sudah lupa kapan terakhir di foto #Palembang #travel Captured by @innertha

A post shared by Hasta Bernad Satriani (@bernadsatriani) on

 

Transportasi

Landing dengan delay sekitar 30 menit di Bandara Internasional Sultan Mahmud Baddarudin II, yang kemudian lanjut menuju kota dengan menyarter mobil avanza yang di tawarkan mas mas di bandara. Kenapa milih dengan mobil? Jika di hitung menggunakan Bus Damri, per orang sekitar 75.000. Dan saya berdua dengan teman, jadi total 150.000. Nah, sedangkan sekali gas pakai mobil cuma 100.000 itu pun saya tawar jadi 90.000.

Alternatif lain untuk mengelilingi kota, saya menggunakan jasa ojek online, sebut saja GOJEK 😀 Saya sengaja tidak memilih angkutan kota ataupun becak, karena saya sendiri tidak paham rute angkotnya. Mungkin jauh lebih murah, tapi bisa saja jarak tempuh jadi lama. Becak? Harga pasti ya lebih mahal dari GOJEK, sama halnya dengan di kota kota lain. Sedangkan GOJEK, dengan tarif yang kita sendiri sudah bisa mengkalkulasinya. Oh ya, sekali perjalanan dengan GOJEK, antara 10.000 hinggal 14.000

Penginapan

Saya mencari penginapan yang murah dan cukup dekat dengan lokasi Jembatan Ampera. Tapi kenyataannya, lumayan jauh juga sekitar 3 KM dari Ampera. Saya menginap di Belvena Hotel dan memesan melalui Traveloka, yang ternyata sekarang berganti nama jadi Vehotel. Cukup murah sekitar 200.000, hanya saja kurang recommended menurut saya.

Kuliner

Hasil rekomendasi seorang kawan dan dari hasil googling, saya memilih untuk mencoba makan siang di Pempek Beringin di Jl Lingkaran I. Ternyata Pempek Beringin ini salah satu yang terkenal di Palembang dan mempunyai banyak cabang, termasuk di dalam Bandara. Harga pun masih masuk akal. Untuk seporsi pempek campur (isi 10) dikenai 40.000

Untuk paket oleh oleh pun banyak pilihan harga, dan saya ambil yang pake 200.000

IMG_3395

Sandera Domain

Sebut saja Bunga, seorang relasi yang sedang bermasalah dengan domainnya. Jadi ceritanya, Bunga lupa untuk perpanjang domain blog nya, yang mana domain ini di pointing ke blogspot milik dia. Usut punya usut, saat beli domain di penyedia domain dan hosting — sebut saja N, Bunga disuruh untuk mendaftar free hosting di idhostinger. Singkat cerita, ketika akan perpanjang domain di penyedia N, Bunga di paksa untuk juga membeli hosting di penyedia N. Sedangkan Bunga tidak menggunakan hosting karena blognya di pointing ke blogpost. Alasan dari penyedia N, katanya hosting digunakan untuk pointing ke blogpost.

Sedangkan sepemahaman saya, pointing domain ke blogpost (custom domain) memerlukan A Record dan CNAME, yang mana bisa di pasang di panel domain maupun panel hosting. Yang saya heran, kenapa harus dipaksa membeli hosting, jika melalui panel domain pun bisa memasang A Record dan CNAME nya.

Akhirnya saya arahkan Bunga untuk menjelaskan ke CS N bahwa beli domain saja harusnya boleh, tanpa dipaksa membeli hostingnya juga. Meskipun pada akhirnya CS nya membalas dengan ketus dan mengiyakan permintaan Bunga, hanya saja ternyata domain Bunga sudah melewati masa tenggang, dan harus menunggu 3 bulan lamanya.

Saat saya meminta Bunga untuk menanyakan panel domainnya kepada CS, CS pun menjawab bahwa panel domain ini ada jika telah membeli hosting terlebih dulu. Ini Lucu :))

“Pembebasan Lahan”

Selama ini, saya cukup sering di minta untuk melakukan “pembebasan lahan” dari para klien maupun teman, dikarenakan pengembang atau pengelola websitenya kabur, atau menahan domain serta hosting yang berujung minta bayaran dan sebagainya. Sesungguhnya, domain dan hosting ataupun akun lain yang terkait dengan kontrak pembuatan website, adalah milik klien dan seharusnya di serahkan ke klien. Dan entah kenapa cukup banyak pengembang yang nakal seperti ini.

Jadi buat para pemilik website, hendaklah meminta panel domain dan hosting kepada developer atau pengembang websitenya, karena itu adalah hak pemilik website.

© 2017 Sekedar Catatan

Theme by Anders NorenUp ↑