Month: May 2016

Festival Dieng, Kenapa Kamu Harus Datang

pesta-lampion-festival-dieng

Pesta Lampion Festival Dieng
photo: phinemo.com

Salah satu festival budaya tahunan yang paling keren menurut saya adalah event Dieng Culture Festival, atau Festival Dieng. Tahun ini adalah tahun ke 7 perayaan Dieng Culture Festival. Kalau tidak lupa, saya selalu datang ke acara ini sejak Festival Dieng ke-4. Mulai dari yang masih sepi nyenyet, sampai mbludak kayak sekarang ini. Tahun lalu saja ada sekitar 200.000 pengunjung memadati semua area Dieng Culture Festival. Saat itu yang menarik perhatian saya di event ini cuma ada 3; ritual pemotongan rambut gimbal, pesta lampion, dan sunrise bukit sikunir.

Bedanya, sekarang ini lebih banyak hal menarik di Dieng Culture Festival ini, selain romantisme sunrise di bukit Sikunir dan nerbangin lampion di dataran tertinggi pulau Jawa, banyak destinasi keren yang mulai di buka beberapa tahun terakhir ini.

Festival Dieng Di Musim Kemarau

Festival Dieng ini selalu diadakan di musim kemarau sekitar Juli hingga Agustus, yang mana suhu di Dieng saat itu sedang dingin dingin-nya, bahkan sampai minus 2-4 derajat cellcius. Kalau saya, tidak disarankan untuk ngecamp disana ketika Festival Dieng atau di musim musim kemarau, meskipun oleh panitia Festival Dieng sudah di sediakan camp ground. Pilihlah homestay jauh jauh hari sebelum hari H, karna kalau mendadak, biasanya sudah penuh di booking calon pengunjung. Jadi, kamu bisa merasakan sensasi tinggal di daerah dengan suhu minus. Keren kan 😀

festival dieng beku

Fenomena Embun Beku di Dieng, atau disebut juga Bun Upas photo: pesonadieng.com

camp ground

A post shared by Hasta Bernad Satriani (@bernadsatriani) on

Pesta Ratusan Lampion Festival Dieng

Hampir sama dengan event pesta lampion Waisak di Borobudur, hanya saja di Festival Dieng kita menerbangkan ratusan lampion secara bersamaan di tanah lapang di suhu mendekati minus dan berada di dataran tertinggi di Pulau Jawa. Buat yang berpasangan, bisa sambil gandengan atau pelukan di tengah keramaian lho. Gimana gak romantis, apalagi pas cuaca cerah dan langit beratapkan ratusan bintang :))

pesta-lampion-dan-kembang-api

Pesta Lampion dan Kembang Api
photo: doc berkelana.net

Destinasi Wisata Yang Instagramable

Kawasan Dieng ini memang isinya banyak wisata alamnya. Kalau datang ke Festival Dieng jangan lupa mengunjungi tempat tempat seperti Telaga Warna, Sunrise Puncak Bukit Sikunir, Telaga Cebong, Museum Kaliasa, Dieng Theatre, Bukit Ratapan Angin, Kawah Sikidang. Bahkan bisa mengeksplor lebih jauh ke daerah Dieng Wetan.

Batu Ratapan Angin

Kamu bisa pamer foto begini :))
photo: doc pribadi

 

Menikmati Kuliner Khas Dieng

Kawasan Dieng juga punya kuliner khas, yaitu Mie Ongklok. Biasanya dinikmati barengan sama sate sapi. Pertama kali denger istilah Mie Ongklok, saya kira ini semacam makanan khas Cina, atau Tiongkok :)) Oh ya, kawasan Dieng ini juga penghasil kentang. Jangan lewatkan untuk sarapan kentang goreng disana.

Ada juga yang namanya minuman Purwaceng, fungsinya semacam ekstra joss gitu deh. Untuk oleh oleh, bisa nyobain Carica. Dan di sekitaran kawasan wisata Dieng, banyak warung yang jual carica dalam kemasan oleh oleh.

Ritual Pemotongan Rambut Gimbal

Ini adalah puncak acara dari Dieng Festival. Biasanya acara ritual ini diadakan di hari terakhir. Karena tahun ini Festival Dieng berlangsung 3 hari dari tanggal 5 s/d 7 Agustus, maka acara ritual ada di tanggal 7 Agustus. Atau untuk agenda acara bisa di lihat di website resmi Festival Dieng.

Jadi di Dieng itu pasti ada anak yang berambut gimbal, dan memang harus di potong supaya setelah itu rambutnya tumbuh normal. Biasanya si anak akan meminta sesuatu sebagai imbalan. Bahkan generasi keturunan dari tanah Dieng ini, meskipun sudah keluar dari wilayah Dieng, anak keturunannya sangat mungkin masih mewarisi rambut gimbal.

Upacara Pemotongan Rambut Gimbal Festival Dieng

Upacara Pemotongan Rambut Gimbal Festival Dieng
photo: doc berkelana.net

Jadi gimana? Udah tertarik untuk datang ke acara Festival Dieng 2016 nanti? Ada beberapa persiapan yang harus dilakukan untuk kesana. Yang pasti karena lokasinya cukup jauh dan terpencil harus melewati jalan yang bekelok dengan kanan kiri bukit dan jurang, lalu transport hanya bisa melalui darat non kereta, kamu bisa membawa kendaraan sendiri atau menyewa layanan mobil dan drivernya.

Paling enak memang ikut penyedia jasa trip. Biasanya para jasa trip atau agen tour yang membuka rute ke Festival Dieng ini sudah menyediakan semua keperluan dan kebutuhan. Mulai dari transport, penginapan dan tiket Festival Dieng-nya. Jadi ga perlu repot repot beli tiket, lalu booking ini itu lagi. Apalagi yang bingung cari penginapan disana, karena pengalaman saya setiap ke Festival Dieng, biasanya H-2 bulan itu homestay disana sudah booked.

Hanya saja, untuk penyedia jasa trip harus pilih yang nyaman, mulai dari transportnya, lalu apakah sudah include makan selama disana, lalu pilihan homestay-nya. Misal pilihan naik elf atau hiace, pasti lebih enak naik hiace kan? Trus homestay-nya lebih enak yang tiap kamar ada kamar mandinya sendiri dibanding kamar mandi barengan serumah. Kalau tertarik, bisa coba Paket Eksklusif Dieng Culture Festival dari Berkelana. Ya namanya paket eksklusif, kamu bakal dimanjain sama layanannya.

Lokasi Gereja Burung Di Film AADC 2

Udah pada nonton film AADC 2? Film yang banyak mengambil lokasi di Jogja, salah satunya di tempat kedai kopi tempatnya Pepeng. Nah dari lokasi lokasi ini yang menurut saya bakal jadi tempat ngehits bagi para traveler itu adalah di Gereja Burung di Magelang.

Gereja Burung

Sejarah Gereja Burung

Ada yang menyebutnya Gereja Burung, Geraja Ayam atau Gereja Merpati. Tapi biasanya oleh warga sekitar disebut Banyak Angkrem atau Angsa Mengeram. Gereja ini pertama kali dibangun oleh Daniel Alamsjah, yang berasal dari Jakarta. Konon Daniel Alamsjah mendapat pesan dari Tuhan untuk membuat rumah ibadah dengan merpati. Pada tahun 1989 saat perjalanan ke Magelang–kota tempat asal istrinya, melihat pemandangan perbukitan yang sama dengan yang ada di mimpinya.

Setahun kemudian dia membeli tanah disana seluas 3000 meter persegi dengan harga sekitar 2 juta. Pembayarannya pun di cicil hinggal lunas sampai 4 tahun selanjutnya. Hanya saja karena keterbatasan biaya, terlebih saat krisis moneter 1998, bangunan itu berhenti pengerjaannya dan terbengkalai sampai sekarang.

Konon, bangunan itu juga sempat jadi tempat rehabilitasi untuk terapi anak cacat, pengguna narkoba, dll.

Bangunan gereja ini cukup besar, yang mana juga terdapat ruang bawah tanahnya. Ada banyak ruang di gereja ini, di ruang bagian atas yang luas itu digunakan sebagai aula, sedangkan ruang bawah tanahnya berfungsi sebagai kamar tidur dan kamar mandi. Total ada sekitar 15 kamar di ruang bawah tanah.

Lokasi Gereja Burung

Rute ke Gereja Burung searah ke Bukit Punthuk Setumbu sekitar 2,5 KM dari candi Borobudur, lebih tepatnya lokasi ini terletak di Dusun Gombong, Desa Kembanglimus, Kecamatan Borobudur, Magelang.

Untuk menuju kesana, dapat menitipkan motor di rumah warga dengan membayar uang parkir 2000 rupiah. Bedanya, saat saya kesana sekitar 2 tahun lalu, belum ada retribusinya, tapi sekarang ini untuk masuk ke Gereja Ayam dipungut 5000 rupiah untuk setiap pengunjung.

Setelah memarkir kendaraan, harus mengikuti jalan bebatuan menanjak yang kemiringannya cukup curam. Dan hanya dalam waktu 5 menit berjalan, kamu sudah dapat melihat bangunan Gereja Ayam. Cukup disayangkan kalau bangunan ini tak lepas dari aksi vandalisme terhadap bangunan gereja. Terdapat coretan pilox disana sini bahkan dengan kata kata seronok dan gambar cewek telanjang. Ga heran, kesan angker dan singup muncul dari bangunan ini.

Sekedar Review AADC 2

Ngomongin tentang film AADC 2, sangat disayangkan Rangga ga ngajakin Cinta buat extend sehari lagi dan nginep bareng. Padahal hampir 24 jam jalan bareng lho 😐

© 2017 Sekedar Catatan

Theme by Anders NorenUp ↑