Menjelang Siang

Di rooftop sebuah cafe di suatu sore, ketika sedang asik bercengkrama sana sini, terlihat dari kejauhan sesosok gadis yang cukup ku kenal. Ya, dia dulu seorang gadis tercantik di satu angkatan di suatu jurusan di Universitas swasta di Jogja. Sebut saja Devi.

Iseng ku hampiri, dan ternyata dia tidak sendiri, bersama adik perempuan dan beberapa teman wanitanya. Ngobrol ngalor ngidul, basa basi sana sini. Maklum, dulu hanya sebatas saling mengenal dan belum pernah terlibat dalam obrolan sepanjang ini. Saat itu aku sudah melupakan apa yang sedang ku kerjakan di Macbook ku dan membiarkannya terbuka begitu saja.

Malam itu Devi sedang merencanakan acara pesta ulang tahun untuk adiknya. Langsung saja aku berpura pura paham tentang membuat sebuah acara dan berusaha untuk turut serta membantu. Yah, paling engga aku paham tentang menyusun konsep dan ide kreatif.

Singkat cerita, pada hari H, aku mengunjungi rumahnya dan tentu saja mengajak beberapa teman. Acara selesai, obrolan masih berlanjut hingga larut malam.

Beberapa hari setelah itu aku masih sering mengunjungi rumahnya dan ternyata memang rumah itu sering di pakai ngumpulnya sahabat sahabatnya, yang ku kenal maupun tidak. Kebetulan Devi mempunyai seorang ponakan yang masih balita, dan dengan cekatan aku langsung berusaha seolah tampak sebagai pria yang ramah dengan anak anak.

Benar saja, Devi mengajakku berputar putar komplek menggunakan sepeda motorku bersama keponakan kecilnya. Sore itu cuaca sedikit mendung dan sesekali gerimis datang. Sungai kecil di ujung komplek terlihat deras arusnya. Akupun memutuskan untuk kembali ke rumah, mengingat kami membawa balita.

Sampai di rumah, aku bertemu dengan ibunda nya, dan langsung dia mengatakan bahwa akan terjadi banjir karena kiriman air bah dari daerah utara yang menerjang perkebunan tebu. Awalnya aku anggap hal biasa. Ah seumur umur di kota ini juga belum pernah banjir hingga airnya baik ke rumah. Sambil berjalan melewati lorong rumah. ku lihat melalui jendela disamping pintu belakang, halaman sudah tergenang air hingga mencapai lantai rumah yang cukup tinggi itu.

Terkejut dengan kondisi itu, seketika aku teriak memanggil Ibunda Devi. Beliau lalu berkata bahwa air banjir yang menggenang ini rasanya manis karena telah bercampur dengan tebu dari perkebunan tebu yang hancur akibat air bah.

Entah bagaimana setelah itu, di sore yang sama. Devi berkata padaku sembari ngobrol santai di balkon lantai 2.
“Sebenarnya, harapan apa yang kamu kasih ke aku?”
Ya, hingga awal pertemuan kami di rooftop cafe tempo hari, kami menjadi dekat dan semakin dekat. Dulu, aku hanya memandang kagum padanya karna sosok yang cantik itu. Dan tak kusangka kini dia hadir di dekatku dan benar benar dekat dan meminta hatiku.

Aku hanya tersenyum sambil mengusap rambutnya.

Dan entah bagaimana, malam ini juga aku harus berada di bandara untuk penerbangan ke Maluku. Kali ini bukan untuk traveling seperti biasanya, dan baru kali melakukan perjalanan ke timur Indonesia. Aku tak sendiri, 3 orang temanku turut serta.
Perjalanan ini untuk mencari pemasukan tetap, dan entah kenapa memilih maluku dan terobsesi dengannya. Terobsesi karena bisa berada di Indonesia timur dengan gaji tetap yang cukup besar.

2 dari 3 temanku yang ikut serta, masih bekerja bersama ku nanti di sebuah tempat baru, dan 1 orang lainnya hanya sekedar ikut meramaikan. Tujuan mencari kerja ini ku lakukan karna usaha ku saat ini belum bisa di jamin pemasukan perbulannya, tapi bukan berarti aku meninggalkan sepenuhnya usaha yang sudah kurintis lama ini. Hanya saja dana ku kerjakan dan ku pantau secara jauh.

Malam keberangkatan itu cuaca hujan deras berangin kencang. Devi mengantarku hingga bandara. Dia memelukkan dan berkata untuk sering pulang ke kota ini. Aku mengiyakan dan membalas mengatakan “jaga orang tuamu, dan tolong jaga orang tuaku”
Aku menitipkan orang tuaku padanya karna saat itu aku belum pamit sama sekali pada orang tuaku. Mungkin orang tuaku masih menganggap diriku masih menginap di kost dan jarang pulang.

Aku hanya berpikir, aku akan pulang 2 bulan lagi untuk menemui keluarga ku dan Devi, mengabarkan kondisiku.
Entah kenapa pesawat yang aku tumpangi adalah pesawat berbaling baling dan kondisi di dalamnya tampak seperti angkutan umum darat. Hanya saja lebih lebar dengan 3 jalur seat penumpang dan kondisi di dalam gelap, hanya cahaya dari luar jendela yang menyinari.

Rombonganku mungkin paling berisik di dalam. Bayangkan betapa girangnya kami yang akan pergi merantau mencari pekerjaan sambil menikmati indahnya Indonesia timur. Walaupun begitu, karna kondisi cuaca yang menurutku buruk, aku sendiri terdiam memikirkan keselataman pesawat ini.

Singkat cerita, aku sudah berada di Maluku untuk 2 bulan dan saatnya aku pulang sejenak ke kotaku, Jogja. Ya tentu saja untuk menemui orang tua ku serta Devi.

Ku awali mengunjungi rumah Devi. Begitu bertemu Devi, ada mimik aneh di wajahnya yang entah kenapa tidak begitu bahagia melihatku di depannya. Dia mengatakan bahwa dia tidak bisa berjauhan denganku. Dan entah apapun alasannya hingga akhirnya dia dan kemudian aku, menganggap hubungan ini sudah tidak spesial lagi.

Masih dengan semangat, aku melanjutkan pulang ke rumahku sendiri. Ku temukan rumahku dalam kondisi sepi. Dimana adikku? Bapak dan Ibuku?

Ku temukan Ibuku tertidur di kamarnya, dan begitu juga adikku tertidur di sebelahnya. Ketika ku bangunkan dan tanyakan Bapak dimana, kaget aku di buatnya. Lemas badanku mendengarnya. Ya, Bapak dan Ibuku telah bercerai sekitar sebulan lalu. Adikku ikut tinggal bersama Ibuku.

Rasanya ingin menangis sekerasnya. Menangis karna penyesalan tidak berada di sana saat 2 bulan lalu dan lebih memilih pergi ke pulau seberang. Akhir kalimat sebelum meninggalkan kamar itu, aku berkata “ikutlah denganku. kita pindah ke Maluku”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *