Ruangan Itu

Beberapa kali mondar mandir di depan ruang ini, entah beberapa kali aku mencari ruang yang sama yang seingatku adalah ruang di depanku ini. Ruangan itu berada di ujung lorong ini, lebih tepatnya ruang ke dua dari ujung. Ruangan ini sudah beberapa tahun ku tinggalkan dan kini berganti menjadi ruang perpustakaan umum.

Ya, aku kembali lagi ke gedung kampus yang entah kenapa lebih mirip bangunan SD setelah beberapa tahun aku menghilang dari sini. Ruang ini hanya mengingatkanku pada kejadian mesum yang ku lakukan bersama pacar temanku beberapa tahun lalu. Dulu ruang ini adalah ruang ganti pakaian.

Entah hari itu apa maksud kedatanganku juga akupun masih berpikir untuk itu. Hanya membiarkan kakiku melangkah dan berhenti tepat di ruangan ini. Di gedung ini. Di tempat dulu aku bercengkrama bersama teman teman yang kini entah pergi kemana.

Ku buka ruang perpustakaan itu. Ruangan ini kini menjadi sangat luas, mungkin karna saat menjadi ruang ganti, masih ada sekat sekat yang membagi ruang menjadi ruangan yang lebih kecil. Lebih banyak lalu lalang mahasiswa yang tampak intelek dan jenius menenteng buku. Ku ingat ingat, perpustakaan ini justru mirip dengan perpustakaan pada film Harry Potter.

Kemudian mataku tertuju di kursi ujung belakang bagian tengan perpustakaan. Yang mana sebenarnya ini adalah sisi memanjang ruang ke samping, yah layaknya ruangan kelas seperti biasanya, memanjang ke samping.
Tampak tidak asing beberapa rombongan yang duduk disana, aku mengenal satu, dua, beberapa dari mereka. Bukan, semua dari mereka yang berada duduk mengelilingi meja itu.

Beberapa nama dapat ku ingat, Amri, sahabat karibku dulu yang hingga kini masih cukup sering berkomunikasi via socmed. Ku hampiri mereka dan seperti biasa kusalami satu persatu. Lama lama akupun terjerumus obrolan ngalor ngidul yang aku sendiri pun tidak bisa mengingat kembali obrolan itu.

Posisi dudukku berhadapan dengan Amri, hanya saja sedikit berada di sebelah kanan posisinya. Lebih tepatnya aku duduk di pojok meja dan menghadap ke arah belakang perpustakaan. Sehingga jika ada orang datang, belum tentu bisa mengenaliku dari punggungku.

Beberapa saat kemudian ada seorang, tidak, dua orang datang dan mengambil kursi baru untuk di letakkan di belakangku karna sisi meja ini sudah penuh dengan kursi. Dia ternyata Bogie, teman masa awal kuliahku dulu. Aku juga berpikir bagaimana dia bisa disini, sedangkan kami dulu berbeda universitas. Dan seperti biasa, menanyakan kabarku lalu kabar kuliahku “Kowe nang endi saiki? Wes lulus rung? Jarene arep pindah? Uwis po?”

Itu sebenarnya pertanyaan yang sering aku hindari di kalangan teman teman kampusku, dan ini muncul dari teman mainku saat awal kuliah. Akupun hanya bisa tersenyum, dan bernafas lega karna dia menanyakan dengan setengah berbisik. Itu berarti disekitar kami tidak ada yang mendengar tentang pertanyaan tentang kepindahan kuliahku.

Aku hanya mengiyakan pertanyaannya dan mengatakan bahwa aku sedang akan mengurus kepindahannya.

Tiba tiba dari ujung meja pada deret yang sama denganku, terlihat sosok orang yang ku kenal baik di awal kuliah hingga akhir saat ku menghilang dari kampus ini. Orang itu berpakaian rapi dengan kemeja putih dan tampak seperti mahasiswa yang sedang menghadapi seminar, pendadaran atau apalah kegiatan resmi lainnya.

“Hei cong, kemana aja kau” dengan sapaan khas dan logat sumatera nya, aku mengenali sosok itu sebagai Rusdan. Ya dia memang teman sejak awal masuk kuliah dan sempat kami menempati satu gedung kost yang sama. Dan setelah dia pindah kost lagi ke tempat lain, kami memang hilang komunikasi ditambah aku yang sudah tidak pernah menjamah kampus.

Basa basi sambil cengengesan aku jawab sapaan nya, sambil berusaha untuk bersikap tegar dan tabah ketika pertanyaan tentang kuliahku. Aku sendiri juga heran apa yang sedang dilakukan di sini, di kampus ini. Ku tau terakhir kali dengar kabarnya saat itu, beberapa tahun lalu, dia sedang menyelesaikan skripsinya.

Tiba tiba dia berkata sambil sedikit berteriak, entah karena suara keras khas sumatera atau memang posisi kamu yang berada di ujung berseberangan meja ini. “Katanya kau mau ngurus surat kepindahanmu, sudah belum?”
Aku jadi teringat apa tujuanku kesini. Ya aku akan mengurus kepindahanku dari kampus ini.

Sejenak aku pamit dengan mereka dan berjalan ke arah luar. Ku buka lagi tas ku di dekat pintu keluar, ku cari surat keterangan pindah yang dulu pernah ku minta dan hanya tersimpan bertahun tahun di dalam tas. Ku baca persyaratannya dan meyakinkan bahwa semua persyaratannya telah terpenuhi.

Beberapa saat sebelum keluar dari ruangan ini, ku tengok ke belakang, ke sudut ruangan ini dimana ingatan membawaku ke kejadian mesum beberapa tahun lalu bersama pacar temanku. Ya, kami melakukannya di ruang ganti ini, di tempat tidur yang terletak di pojokan ruang ini.
Aku tersenyum dan kemudian melangkah keluar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *