Sekelumit Cerita Buruh Rokok Hingga Petani di Negeri Tembakau

Sekitar bulan September lalu, tiba tiba mendapat tawaran dari Komunitas Kretek untuk mengikuti serangkaian acara #WisataKretek yang sebenarnya juga dalam rangka memperingati Hari Kretek yang jatuh pada tanggal 3 Oktober. Wah cocok ini pikir saya, bisa sekalian piknik juga. Selama 4 hari itu dikenalkan mengenai kretek, mulai dari penanaman, produksi hinggal beberapa hal di yang berkaitan dengan petani tembakai di Temanggung dan buruh pabriknya di daerah Kudus.

Tapi disini ada hal yang membuat saya tertarik, lebih mengenai cerita dari para buruh pabrik rokok di Kudus dan para petani tembakau di Temanggung. Mulai dari perihal gambar seram yang ada di bungkus rokok, yang banyak menuai protes bukan hanya konsumen, tapi parah buruh pabrik yang menggantungkan hidup mereka dari sini.

Jumlah buruh yang bekerja di sektor rokok di Kudus saja tercatat sekitar 73.460 orang, dan dari 88 perusahaan rokok di Kudus, hanya 3 pabrik rokok yang tercatat sebagai perusahaan besar, lainnya hanya golongan kecil dan menengah. Jika menilik dari sisi ekonomi, bayangkan jika pabrik rokok di Indonesia di tutup oleh pemerintah, mau makan apa para buruh rokok yang jumlahnya sebesar itu? Belum lagi masalah upah buruh pabrik rokok yang dalam sehari hanya sekitar 20.000 rupiah.

Bagaimana dengan para petani tembakaunya? Ternyata rata rata para petani tembakau di Temanggung, terutama di Desa Wonosari, hanya mengandalkan dari panen tembakau saja, yang kadang hanya sekali setahun. CMIIW. Belum lagi para makelar yang berlapis itu, yang tugasnya menjualkan ke pabrik, yang menurut saya secara bodon kok ya engga berusaha menjual sendiri ke pabrik. Sempat pada suatu pagi, setelah subuh, ketika agenda #WisataKretek mengunjungi dan melihat bagaimana tembakau di rajang dan di jemur, saya iseng bertanya, apakah ada warga disini yang menuntut ilmu hingga perguruan tinggi, terutama di bidang Pertanian? Kata bapak yang sedang menjelaskan kepada kami, untuk sekolah tinggi aja engga kepikiran karena rata rata penduduk disana itu petani.

Mungkin yang ada di pikiran saya adalah jika ada salah satu anak muda yang mau sekolah lebih tinggi dan mengambil bidang pertanian serta mau mendedikasikan ilmunya untuk desanya, alangkah lebih baik. Banyak cerita yang saya dapat diluar lingkup tembakau, para petani masih di sulitkan oleh para makelar dan birokrasi. Dan jika para petani bisa melewati hal tersebut, alangkah lebih baiknya perekonomian mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *