Seorang Pasien

Entah kenapa tiba tiba aku di daulat menjadi salah satu juri di sebuah festival musik cadas. Ya, meskipun aku sempat beberapa tahun yang lalu pernah mencoba menjadi musisi dan cukup mencintai musik cadas, tapi bukan berarti aku paham apapun tentang musik ini

Dan pada akhirnya, di waktu yang sebenarnya tidak kutunggu ini, aku datang di sebuah tempat yang nantinya menjadi semacam tempat test ku untuk menjadi juri. Beberapa meter di depanku, tampak seakan bangunan ini mirip piramida dengan tangga di tengahnya dan berkerumun banyak orang.

Test ini seperti leveling di permainan. Kamu harus menyelesaikan permainan pertama dengan task ini itu untuk dapat melanjutkan naik ke tangga level selanjutnya. Tapi bagiku, ini tampak seperti neraka, dimana kamu harus melalui tahap tahap yang sangat menyulitkan hingga pada akhirnya dapat menemui pintu surga. Jika gagal dalam tahap tertentu, kamu akan jatuh di lempar ke neraka di bawahnya.

Ya, benar benar menyeramkan dengan bentuk bangunan yang identik warna gelap. Oh tidak, bangunan ini memang seluruhnya berwarna hitam. Belum lagi orang orang di setiap tangganya berdandan ala pemain musik cadas, rambut gondrong pakaian serba hitam dan tampak garang.

Hal yang membuatku masih nekat dan nyaman untuk memulai menjalani test ini karena wanita di sebelahku. Wanita cantik yang belum lama ku kenal yang ku dekati karna akhirnya aku tau dia seorang dokter. Dia ku kenal melalui seorang teman yang pada saat itu, temanku ini bertemu dengannya di sebuah konser musik cadas di kota seberang. Kota asal wanita ini.

Bukan karna lalu merasa jaim dan berusaha berani menghadapi test ini, tapi karna yakin wanita ini bisa membantu melewati tahap tahap yang akan di lalui pada test ini. Tangga demi tangga ku lalui, dan beberapa jawaban ngawur yang ternyata selalu benar dapat dilewati. Orang orang didepanku ini ternyata adalah kumpulan musisi cadas era 70-80an, dan mungkin sangat underground karna hanya sedikit yang kutau namanya. Dan bayangkan, melalui tour singkat ini aku mau ataupun tidak diharuskan menghapal dan mengenal orang orang ini.

Mereka tidak seseram seperti di pikiranku, justru beberapa hal yang ditanyakan, mereka malah memberi contoh kepadaku. Mengajari beberapa hal yang aku tidak tau sebelumnya. Akhirnya selesailah tahapan test ini hingga puncak bangunan telah kulewati.

Beberapa hari setelahnya, malam setelah festival musik cadas ini selesai, kami, aku dan orang orang ini dan tentu juga wanita yang menemaniku dari awal, mengadakan semacam party kecil untuk merayakan suksesnya acara. Beberapa foto foto yang di ambil dan telah diberi caption, kami liat bersama sama. Banyak foto ku dengan dia yang bercaption “with Bernad” dan beberapa tampak terlihat bergandengan mesra.

Wanita ini, sebut saja Jessica. Seorang wanita cantik yang terpaut umur beberapa tahun di atasku. Dan hubungan kami pun semakin dekat dari hari ke hari semenjak perkenalan kami. Dan pada akhirnya, karna acara musik ini, teman teman ku pun akhirnya mengenal wanita ini. Beruntunglah hatinya sudah ku pegang, rasa takut karna bakal kena tikungpun hilang.
Beberapa kali aku membayangkan, orang tuaku datang menemui keluarganya untuk melamarnya. Konyol memang, tapi itulah yang tiba tiba muncul di pikiranku. Beberapa pertanyaan muncul di dalam hati. Bagaimana tidak, Jessica ini bahkan lebih tua dari kakak ku sendiri.

Hingga pada suatu waktu, aku menulis di bio akun Twitterku. “Pasiennya @Jessica”

3 Comments

  1. wo yo, jare wong tuwo… umur bukan masalah bro..yang penting “pengertian” haissshh… long time no see, sesuk kalo ke jogja kita kumpul lah.. sehat selalu dab, salam nggo keluarga 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2019 Sekedar Catatan

Theme by Anders NorenUp ↑