Nama Teman Itu Adalah Hamid

“Ruk Ruk”. Begitu panggilan teman teman kepada Hamid. Untuk teman teman dari SMA 7 mungkin semua tau panggilan ini, Si Jeruk. Iya, saya ini satu sekolah di SMA cuma beda jauh angkatannya. Mungkin karna badannya bulat, jadinya dipanggil Si Jeruk yang sekarang mungkin lebih dikenal sebagai @hmd, @bocahmiring, @mukiyo, dan @duajanuari. Sekitar 10 tahun-an masa pertemanan saya dengan beliau hingga pada tanggal 20 Mei kemarin meninggalkan saya, kita, kalian, dan semua yang mengenal Hamid.

10 tahun bukan merupakan waktu yang singkat untuk sebuah pertemanan.  Dan selama itu kowe ki wes dadi konco, sahabat, sedulur, rekan kerja, konco curhatku.

Kerja Bareng

Iya, bisa dibilang saya pernah kerja bareng beliau bersama mas Yan Arief, bahkan sempat merintis usaha bareng selama lebih dari 2 tahun bareng @masbenx juga di daerah Jogja bagian selatan. Selama itu juga tiap hari ketemu, bahkan tidur sekasur di kantor karena pada males pulang, dan lebih suka di kantor yang internetnya cukup kenceng.

Panggilan Kesayangan?

Ga cuma Hamid yang punya banyak panggilan, beliau sendiri juga sering ngasih panggilan aneh ke beberapa temannya. Misal saya “dyx”, “dugong” untuk @melissanfani, “tigor” untuk @aditsme, “sastro” untuk Agil, “Gali KAI” untuk @faridstevy dan beberapa untuk teman dekat lainnya. Bahkan pernah ngasih panggilan agak aneh ke mantannya (saat itu masih jadi pacar) yang ga bisa saya sebutkan namanya disini. Kelingan tragedi pizza hut, Mid? :))

Penghubung Pertemanan

Awal pertemanan ini sejak kelas 2 SMA, yang mana Hamid adalah alumni yang masih sering main ke sekolah. Karena hobi IT pada saat itu, saya dikenalkan oleh beliau melalui Wisnu @layangkangen, teman saya sejak kelas 1 SMA. Karna punya ketertarikan dengan dunia IT, klop lah kami dan semakin dekat ketika kelas 3 SMA.

Dari Hamid lah saya mengenal Koh @AfitHusni yang kemudian berlanjut ke dalam komunitas Jogtug. Sejak itu, melalui beliau saya mengenal orang orang hebat lainnya baik di Jogja maupun Jakarta. Pernyataan ini pun di iyakan oleh banyak teman yang cukup lama mengenal Hamid.

Oh ya, beliau juga yang menghubungkan beberapa orang aktivis online yang akhirnya sempat terbentuk Jogja Onliners, dan hinggal kini saling meluas lagi pertemanan di Jogja. Iya, awalnya karena Hamid dan Arga.

Pertanda

Ga ada yang nyangka dengan kepergian Hamid. Yang pada akhirnya sempat beberapa dari teman teman seperti Mbak Kiky, Baba @rasarab dan termasuk saya berpikir lagi. Seminggu terakhir sebelum kepergiannya, Hamid sering banget ngumpul atau srawung bareng temen temen. Seperti cerita Baba yang katanya dia dateng ke kantor Babaran dan nungguin Baba sampai bangun hingga siang, dan itu berlangsung hampir tiap hari. Lalu ketika dia ikutan nongkrong bareng anak anak Sewu Trip ke acara Festival Bango, yang sebenernya sangsi kalau Hamid mau dateng. Hamid tipikal males di keramaian dan berpanas panas ria.

Belum lagi, check in dari Path temen yang menyertakan dia tiap malam nongkrong di angkringannya Arga. “Kok tumben tumben e yo Ba” kataku kepada Baba. Hamid padahal termasuk yang paling males kalo harus ke utara (sleman) apalagi malam hari, kecuali untuk suatu keperluan.

Kesederhanaan, Idealis, Ngeyelan

Satu hal yang paling saya ingat dari seorang Hamid adalah kesederhanaannya. Selain idealis dan ngeyelannya dia. Satu kalimat dari Hamid yang pernah disampaikan untuk saya sekitar 1,5 tahun lalu :

Nek kowe wes gede, ojo lali

Yang artinya, kalau kamu sudah besar (sukses), jangan lupa (sama yang di bawah). Kalimat ini pernah juga saya teruskan dan sampaikan kepada beberapa teman terdekat seperti Baba dan @banumelody (kalo ga lupa).

Seperti cerita dia tentang beberapa kerjaannya sebelumnya, dia lebih memilih keluar daripada merepotkan orang lain atau daripada bikin ga enak orang lain. Hamid itu memang ngeyelan, ngeyel dari banyak hal. Saya, Tigor, Baba sampai geleng geleng kalo beliau udah begitu :))

Sempat kemarin saya bilang ke Melissa kalau saya kangen pagop pagop-an bareng Hamid. Iya ,saya sebenarnya lumayan sering adu argumen sama beliau, terlebih dalam hal idealisme.

Jodoku Piye?

Itu pertanyaan yang sering dilemparkan ke saya begitu selesai sesi obrolan, atau tanya “bar iki enak e ngapa ki?” Karna saking dekatnya dengan beliau, selain cerita tentang keluarganya, dia juga cerita tentang kisah cintanya yang kadang masih suka bikin galau dan beberapa kisah cintanya yang masih saya rahasiakan hingga kini. Ealah awak gede kok galau tho, Mid Mid :))

Sekarang Hamid secara sudah mendahului kita. Bukan hanya badannya yang lebar, tapi hatinya juga lebar. Bahkan mungkin karna badannya lebar, itu yang bikin saya dan teman teman susah melupakannya.

Sing tenang yo Mid, saiki rasah mikir duniawi meneh. Jodomu wes digolek e Gusti neng kono. Neng kono luwih indah seko Banda Neira. Kowe tetep guruku sak lawase. Salah siji uwong sing tak anggep paling pinter.

Suatu saat, kita blah bloh lagi di sana ya :’)

Makeup Challenge, bagaimana menjadi zombie dengan bahan sederhana.

3

Booth kreatifitas yang berada di Taman Budaya Yogyakarta dalam serangkaian acara kolaborasi Lingkar Alumni Indie Movie dengan  Jogja NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2014 , selalu diwarnai hal baru. Sehari sebelumnya diisi dengan casting challenge, pada hari ini (3/12/14) , ada Make up challenge dan diisi oleh departement art , crew film Urbanis Apartementus .

Dalam produksi film, makeup menjadi bagian dari departement art yang cenderung dikesampingkan , apalagi dalam film pendek. Dengan alasan, yang di capture dalam film adalah kegiatan-kegiatan nyata dan berada di sekitar kita , sehingga pembuat film ingin terkesan natural . Padahal, pada kenyataanya makeup harus mampu membantu divisi art untuk menghidupkan sebuah karakter di dalam visual.

Menjawab permasalahan dari hampir setiap produksi film alternatif berbudget murah, yakni disisi makeup , Makeup challenge ini memanfaatkan makeup murah dan sangat mudah didapatkan . Tinggal bagaimana cara menggunakannya saja.

Continue…

Sejarah John Doe

Pernah lihat tulisan “John Doe” di sebuah website? Biasanya kata “John Doe” dipakai sebagai nama pada contoh website atau dummy website, misal “Hey, I’m John Doe. A Web Developer blablabla”. Mungkin hampir sama fungsinya dengan lorem ipsum yang juga banyak dipakai sebagai dummy website.

Padahal John Doe bukanlah nama seorang pengembang web ataupun seorang yang berpengaruh di bidang website. Sebenarnya nama John Doe sendiri dipakai di Amerika bagi seseorang yang tidak dikenal identitasnya. Jika pria diberi inisial John Doe, sedangkan wanita dengan inisial nama Jane Doe, dan jika masih bayi diberi inisial nama Baby Doe.

Sedangkan asal mula nama John Doe sendiri berasal dari peristiwa pembunuhan Presiden Amerika, McKinley pada 6 September 1901. Pembunuhnya bernama Leon F. Czolgosz yang sehari sebelum pembunuhan, dia menginap di Riggs House Hotel. Dan di hotel tersebut, dia menggunakan nama samaran John Doe.

Dan sampai sekarang, tiap orang yang belum dikenal identitasnya, orang Amerika menyebutnya dengan John Doe.

Lingkar Alumni Indie Movie , turut berpartisipasi dalam Jogja Netpac Asian Film Festival 2014

2

Seperti semangat yang diusung oleh Lingkar Alumni Indie Movie, untuk selalu menggerakkan calon generasi baru  perfilman indonesia, melalui workshop dan keterlibatan-keterlibatan dalam berbagai macam giat-giat perfilman secara intensif . Setelah Movie day, alumni-alumninya berkesempatan untuk turut andil dalam Indiemovie goes to cinema .

Lingkar Alumni Indie Movie goes to cinema, diawali dengan pembuatan film “Isyarat” pada 2013 , dan dilanjutkan dengan produksi “Urbanus Apartementus” oleh angkatan selanjutnya . Sebagai bentuk nyata , memberikan sumbangsih bagi perkembangan film Indonesia.

Continue…

Pemutaran Urbanis Apartementus dan reuni Lingkar Alumni Indie Movie

a

Setelah diputar di Bali International Film Festival (Balinale 2014) , beberapa bulan yang lalu, kali ini Urbanis Apartementus kembali dipertontonkan pada masyarakat luas. Bekerjasama dengan Jogja NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2014, pada 4 desember 2014, Urbanis Apartementus lolos sebagai karya dalam slot program Special screening. Dalam kurun waktu berturut turut dua tahun terakhir ini, Lingkar Alumni LAIM dan JAFF aktif bekerjasama. Debut film perdana alumni LAIM di tahun lalu yang berjudul  Isyarat , dan merupakan film omnibus juga menjadi bagian dari program di JAFF 2013.

JAFF, merupakan festival film alternatif yang berlokasi di Yogyakarta , digagas semenjak 9 tahun yang lalu dan rutin diadakan setiap tahunnya. Mengkhususkan diri pada perkembangan film alternatif di Asia . Dan menjadi salah satu lokasi reuni filmmaker film alternatif setiap tahunnya.

Continue…

NOKNjam X Farid Stevy

Begitu tau bakal ada NOKN edisi Farid Stevy, langsung DM Bayu untuk booking, karna NOKNJam X Farid Stevy ini limited hanya 65 set saja. Dan semua keuntungan dari penjualan ini akan digunakan untuk membuat 100 tas sekolah yang akan diberikan kepada 100 anak SD dari keluarga kurang mampu.

Ngomongin tentang NOKNBag sama saja ngomongin tentang inovasi, dan ngomongin tentang Farid Stevy berarti ngomongin tentang karya seni. Sekali lagi saya tertarik dengan custom patches-nya.

patches-1024x482

Patches

Oh ya, dan saya beruntung mendapatkan NOKJam urutan ke 3 😀

photo 3

Bagi yang penasaran, silahkan cek langsung ke TKP

Yogyakarta Berhenti Nyaman (?)

Sebagai orang Jogja, saya mungkin cukup heran dengan postingan di social media mengenai beberapa berita yang mungkin negatif tentang Jogja.  Mulai dari hashtag atau tagline “Jogja Ora Di Dol”, yang awalnya merupakan bentuk protes tentang pembangunan yang bisa di bilang sangat pesat di Jogja. Mulai dari banyaknya Mall, Hotel dan Apartment yang secara langsung berimbas pada macetnya jalanan di Jogja. Belum selesai perkara hotel, beberapa bulan lalu dan baru baru ini muncul tagline “Jogja Asat” yang sampai dibuat mural di Jembatan Kewek pada 2 Oktober lalu yang konon sekarang sudah dihapus.

Sepertinya ini bentuk protes atas kegelisahan warga kota yang kekeringan air sebagai dampak banyaknya pembangunan Hotel dan Mall di kota Jogja. Pasalnya, banyaknya pembangunan ini membuat air tanah di kota Jogja semakin menurun dan surut.

Continue…

Sekelumit Cerita Buruh Rokok Hingga Petani di Negeri Tembakau

Sekitar bulan September lalu, tiba tiba mendapat tawaran dari Komunitas Kretek untuk mengikuti serangkaian acara #WisataKretek yang sebenarnya juga dalam rangka memperingati Hari Kretek yang jatuh pada tanggal 3 Oktober. Wah cocok ini pikir saya, bisa sekalian piknik juga. Selama 4 hari itu dikenalkan mengenai kretek, mulai dari penanaman, produksi hinggal beberapa hal di yang berkaitan dengan petani tembakai di Temanggung dan buruh pabriknya di daerah Kudus.

Tapi disini ada hal yang membuat saya tertarik, lebih mengenai cerita dari para buruh pabrik rokok di Kudus dan para petani tembakau di Temanggung. Mulai dari perihal gambar seram yang ada di bungkus rokok, yang banyak menuai protes bukan hanya konsumen, tapi parah buruh pabrik yang menggantungkan hidup mereka dari sini.

Continue…

Seorang Pasien

Entah kenapa tiba tiba aku di daulat menjadi salah satu juri di sebuah festival musik cadas. Ya, meskipun aku sempat beberapa tahun yang lalu pernah mencoba menjadi musisi dan cukup mencintai musik cadas, tapi bukan berarti aku paham apapun tentang musik ini

Dan pada akhirnya, di waktu yang sebenarnya tidak kutunggu ini, aku datang di sebuah tempat yang nantinya menjadi semacam tempat test ku untuk menjadi juri. Beberapa meter di depanku, tampak seakan bangunan ini mirip piramida dengan tangga di tengahnya dan berkerumun banyak orang.

Test ini seperti leveling di permainan. Kamu harus menyelesaikan permainan pertama dengan task ini itu untuk dapat melanjutkan naik ke tangga level selanjutnya. Tapi bagiku, ini tampak seperti neraka, dimana kamu harus melalui tahap tahap yang sangat menyulitkan hingga pada akhirnya dapat menemui pintu surga. Jika gagal dalam tahap tertentu, kamu akan jatuh di lempar ke neraka di bawahnya.

Continue…

Ruangan Itu

Beberapa kali mondar mandir di depan ruang ini, entah beberapa kali aku mencari ruang yang sama yang seingatku adalah ruang di depanku ini. Ruangan itu berada di ujung lorong ini, lebih tepatnya ruang ke dua dari ujung. Ruangan ini sudah beberapa tahun ku tinggalkan dan kini berganti menjadi ruang perpustakaan umum.

Ya, aku kembali lagi ke gedung kampus yang entah kenapa lebih mirip bangunan SD setelah beberapa tahun aku menghilang dari sini. Ruang ini hanya mengingatkanku pada kejadian mesum yang ku lakukan bersama pacar temanku beberapa tahun lalu. Dulu ruang ini adalah ruang ganti pakaian.

Entah hari itu apa maksud kedatanganku juga akupun masih berpikir untuk itu. Hanya membiarkan kakiku melangkah dan berhenti tepat di ruangan ini. Di gedung ini. Di tempat dulu aku bercengkrama bersama teman teman yang kini entah pergi kemana.

Continue…